FAKTOR KETERSEDIAAN dan JENIS BAHAN BAKAR TERHADAP TERJADINYA KEBAKARAN HUTAN

BAB I. PENDAHULUAN

kebakaranIndonesia dianugerahi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dengan hamparan hutan seluas 144 juta ha. Hutan tersebut memiliki berbagai fungsi anatara lain sebagai penghasil kayu, sumber palsma nutfah, ekosistem, habitat flora dan fauna serta sebagai pengatur tata air dan dan pengawetan tanah. Fungsi tersebut sangat penting bagi kehidupan manusia, sehingga perlu dijaga akan kelestariannya dari gangguan yang menyebabkan berkurangnya atau hilangnya fungsi tersebut (Purbowaseso, 2004).
Kebakaran hutan dan lahan memiliki dampak bersifat eksplosif yaitu akan memusnahkan hutan dan lahan dalam waktu singkat dengan areal yang luas. Mengingat dampaknya yang eksplosif tersebut, maka upaya perlindungan terhadap kawasan hutan dan tanah sangatlah penting. Perlindungan tersebut berupa upaya pencegahan lebih diutamakan dari pada upaya penanggulangan, dalam hal ini upaya pencegahan lebih diuatamakan dari pada upaya penanggulangan, seperti pepatah mengatakan “sedia payaung sebelum hujan”. Jadi janganlah baru sibuk setelah hutan dan lahan hampir ludes terbakar habis (Purbowaseso, 2004).
Pertanyaan dengan tanda tanya besar yang sering muncul adalah mengapa kebakaran hutan itu masih terjadi?. Menurut terjadinya kebakaran hutan itu bersumber dari api liar (tidak terkendali), karena faktor alamiah dan atau buatan. Faktor alamiah yang dapat menyebabkan kebakaran adalah karena adanya deposit tambang (misalnya: batu bara) dan terjadinya gesekan dari bahan bakar kering, sehingga menyebabkan materi tersebut menjadi panas dan akhirnya memunculkan api sebagai sumber kebakaran (Purbowaseso, 2004).
Faktor buatan manusia merupakan faktor yang disengaja dalam rangka kegiatan tertentu misalnya: penyiapan ladang berpindah, perkebunan, hutan tanaman industri, transmigrasi atau juga kegiatan peternakan besar seperti ternak sapi yang selalu membutuhkan hijauan makanan ternak dari rumput muda, dengan membakar alang-alang, maka segera akan didapatkan rumput muda yang segar untuk pakan ternak sapi tersebut sehingga akan mengakibatkan kebakaran hutan (Kholik, 2000).
Faktor-faktor terjadinya suatu kebakaran hutan dan lahan adalah karena adanya unsur panas, bahan bakar dan udara/oksigen. Ketiga unsur ini dapat digambarkan dalam bentuk segitiga api. Penyebaran api bergantung kepada bahan bakar dan cuaca. Bahan bakar berat seperti log, tonggak dan cabang-cabang kayu dalam keadaan kering bisa terbakar, meski lambat tetapi menghasilkan panas yang tinggi. Bahan bakar ringan seperti rumput dan resam kering, daun-daun pinus dan serasah, mudah terbakar dan cepat menyebar, yang selanjutnya dapat menyebabkan kebakaran hutan (Sabiham,2004).
Kadar air/kelembaban bahan bakar juga penting untuk dipertimbangkan dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Pada keadaan normal, api menyala perlahan pada malam hari karena kelembaban udara diserap oleh bahan bakar. Udara yang lebih kering pada siang hari dapat menyebabkan kebakaran yang cepat. Oleh sebab itu, secara teknis pada malam hari akan lebih mudah mengendalikan kebakaran hutan/lahan daripada siang hari. Namun demikian tidak lantas berarti, bahwa pengendalian kebakaran secara serius tidak dilakukan pada siang hari (Dephut,1998).
Volume bahan bakar sering diistilakan dengan kuantitas bahan bakar. Selanjutnya kuantitas dibagi dua bagian yaitu: bahan bakar potensial (total) dan bahan bakar tersedia. Bahan bakar potensial adalah jumlah bahan bakar yang akan terbakar pada kondisi cuaca ekstrim (kering dan panas) serta intensitas kebakaran yang tinggi. Sedangkan bahan bakar tersedia adalah bahan bakar yang tersedia pada setiap kebakaran hutan.jumlah dari bahan bakar tersedia akan bervariasi dan tergantung dari ukuran serta jumlah total bahan bakar yang ada ( Purbowaseso,2004).
Jenis vegetasi yang memilik sufat menggugurkan daun dan cepat mengalami pruning akan memberikan akulmulasi bahan bakar dilantai hutan dalam jumlah besar dibandingkan jenis yang tidak menggugurkan daun atau lambat mengadakan pruning. Demikian pula dengan pohon yang memiliki tajuk yang besar juga akan memberikan akulmulasi bahan bakar yang banyak bila dibandingkan dengan pohon yang memiliki tajuk yang kecil didalam hutan (Purbowaseso,2004).
Api merupakan factor ekologi potensial yang mempengaruhi hampir seluruh ekosistem daratan, walau hanya terjadi pada frekuensi yang sangat jarang. Pengaruh api terhadap ekosistem ditentukan oleh frekuensi, intensitas dan tipe kebakaran yang terjadi serta kondisi lingkungan. Api yang terjadi didalam hutan dapat menimbulkan kerusakan yang besar. Tetapi dalam kondisi tertentu pembakaran hutan dapat memberikan manfaat dalam pengelolaan hutan (Widyastuti dan Sumardi, 2002).
Kebakaran hutan merusak hampir seluruh komponen penyusun hutan, sehingga tujuan pengelolaan dan fungsi hutan tidak tercapai. Asap tebal yang terjadi akibat kebakaran hutan juga menimbulkan gangguan terhadap kehidupan yang lebih luas. Luka-luka pada pohon memberikan peluang lebih tinggi kepada penyebab kerusakan lain terutama hama dan penyakit (Widyastuti dan Sumardi, 2002).
Secara umum pembakaran hutan telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat terutama yang dilakukan pada masyarakat yang melakukan pertanian berpindah. Dengan pembakaran hutan yang dilakukan banyak berbagai bahan bakar yang terbakar yang dapat mempercepat kebakaran hutan. Dalam dasa warsa terakhir ini pembakaran hutan mulai banyak dimasukkan sebagai salah satu pilihan dalam tindakan silvikultur di beberapa negeri, walaupun masih banyak dampak negatif akibat akibat pembakaran hutan yang belum dapat teratasi terutama terhadap kualitas lingkungan hidup (Sagala, 1992).
Api diketahui sebagai salah satu faktor lingkungan yang berperanan terhadap distribusi dan kelimpahan jenis tumbuhan, dan secara luas api mempengaruhi watak system ekologis hutan dan vegetasi penutup lainnya. Kebakaran, walaupun terjadi pada frekuensi yang jarang, menimbulkan perubahan kondisi lingkungan yang radikal dalam waktu yang singkat sehingga mampu mengubah komposisi vegetasi penyusun ekosistem hutan yang tadinya teratur (widyastuti dan Sumardi, 2002).
Pada umumnya kebakaran selalu dianggap sebagai factor perusak yang harus dihindari dalam pengelolaan hutan, sehingga dapat mengarah kepada terlalu melindungi hutan dari api. Perlu diingat bahwa keberadaan api dalam hutan sangat berperngaruh terhadap perkembangan dan terjaganya asosiasi ekosistem. Perlindungan terhadap kebakaran hutan yang terlalu ketat dapat menyebabkan terjadinya perkembangan hutan yang tidak sesuai dengan perkembangan asalnya, sehingga ekosistem akan berubah menjadi ekosistem yang tidak tahan terhadap api dan bila kebakaran terjadi akan menimbulkan kebakaran yang besar (Sagala, 2002)
Pembakaran pada dasarnya merupakan reaksi oksidasi yang cepat dari suatu bahan. Dibanding dengan proses oksidasi yang lain misalnya penguraian, pembakaran berlangsung lebih cepat. Untuk setiap proses kebakaran, factor-faktor bahan bakar, oksigen (udara) dan panas merupakan prasyarat yang harus ada dalam kondisi dan perbandingan yang tepat dan ketiga hal tersebut juga terlibat dalam proses kimiawi (Sumartono, 2006).
Sumber api kebakaran hutan dan lahan yang berasal dari kejadian alam, walaupun jarang terjadi tetapi kemungkinan tetap ada yaitu dari halilintar/petir. Karena terjadinya pada musim penghujan, biasanya hanya berakibat kecil dan kurang berarti. Tetapi apabila petir menyambar pohon dengan tajuk yang mudah terbakar dalam keadaan basah (pinus), hal ini akan menimbulkan kebakaran tajuk yang hebat pada hutan pinus (Sumartono, 2006).

BAB II. ISI

Kebakaran hutan pada dasarnya merupakan penyalaan bahan-bahan bakar organik kering yang ada didalam hutan, namun demikian tipe kebakaran yang terjadi sangat bervariasi. Jumlah, kondisi, dan penyebaran bahan-bahan yang potensial dapat terbakar, kondisi cuaca, kondisi topografi, sangat menentukan tipe kebakaran dan akibat keruskan yang teradi didalam hutan (Widayastuti dan Sumardi, 2002).

Komponen Kebakaran Hutan
Kebakaran dalam hutan dapat terjadi bila sedikitnya tersedia tiga komponen yaitu bahan bakar yang potensial, oksigen atau udara, dan penyalaan api. Seluruh komponen penyusun hutan pada dasarnya dapat merupakan bahan bakar untuk kebakaran hutan. Potensi komponen tersebut sebagai bahan bakar, baik sendiri atau secara kumulatif, ditentukan oleh jumlah, kondisi terutama kadar airnya dan penyebaran dalam hutan

Pohon-pohon penysun hutan, yang merupakan bagian terbesar dari komponen hutan yang dapat berperan sebagai bahan bakar, mempunyai potensi dan kemudahan terbakar yang sangat bervariasi. Perbedaan kemudahan terbakar tersebut dapat disebabkan oleh perbedaan jenis atau komposisi jenis tanaman, jenis pohon berdaun lebar lebih sulit terbakar dibanding pohon-pohon berdaun jarum yang lebih banyak mengandung zat-zat seperti resin (Hawley dan Stickel, 1984).

Jenis-jenis tumbuhan bawah pada lantai hutan, yang biasanya terdiri dari jenis-jenis semak belukar dan pohon berukuran kecil lain, secara keseluruhan merupakan akumulasi bahan bakar yang cukup potensial bila dalam keadaan kering. Semak belukar dibawah hutan jati yang selalu tumbuh dan hijau pada musim hujan, lebih sulit terbakar dibanding semak belukar yang kering pada musim kemarau. Semak belukar biasanya merupakan lapisan tajuk bawah yang cukup tebal sehingga dalam kondisi kering mempunyai potensi sebagai bahan bakar yang sangat potensial (Widyastuti dan Sumardi, 2002).

Disamping bahan bakar yang dijelaskan diatas, didalam hutan juga terdapat bahan-bahan tumbuhan yang telah mati berupa serasah daun dan ranting atau kayu mati yang berjatuhan. Bahan-bahan organik mati diatas lantai hutan pada umumnya mudah mengering dan tersebar merata. Pada tipe hutan tertentu lapisan bahan organik mati pada lantai hutan dapat sangat tebal membentuk lapisan bahan organik yang disebut gambut (Sagala, 1992).

Komponen kedua dari proses kebakaran hutan adalah tersedianya oksigen atau udara. Oksigen atau udara pada umumnya tersedia dalam kondisi berlimpah pada bagian hutan diatas permukaan tanah, misalnya didalam lapisan tajuk, lapisan batang dan lapisan tumbuhan bawah. Didalam serasah juga terdapat udara yang cukup banyak.
Komponen yang ketiga yaitu adanya penyalaan api yang dalam hutan dapat terjadi secara alami, misalnya akibat petir dan gejala vulkanik. Sumber penyalaan api lain dapat berasal dari pengangkutan, pembersihan lapangan pratanam, atau kegiatan manusia lainnya. Terdapat korelasi antara pusat-pusat pemukiman penduduk disekitar hutan dengan timbulnya sumber api ( Widyastuti dan Sumardi, 2002).

Potensi Bahan Bakar
Kemudahan terbakarnya komponen hutan dalam kebakran hutan ditentukan oleh jumlah dan persebaran, kadar air serta kandungan bahan tertentu (misalnya resin). Beberapa istilah teknis yang digunakan untuk menilai kebakaran hutan diantaranya ialah intensitas, tingkat kerusakan (severiti), dan laju penyebaran. Kimmins (1997) mendefinisikan severiti sebagai tingkat pengaruh kebakaran hutan terhadap bahan organik. Intensitas digunakan untuk pengertian laju energi yang dikeluarkan oleh kebakaran hutan sedangkan laju penyebaran adalah kecepatan ujung api yang searah dengan arah angin (Bowen, 1999).

Pembagian Bahan Bakar
Secara umum bahan bakar dapat dibagi menjadi tiga bagian menurut tingkatan atau susunan secara vertical yaitu :
• Bahan Bakar Atas
Semua bahan bakar hijau (hidup) dan mati yang terdapat di kanopi hutan, meliputi cabang ranting dan mahkota pohon serta semak belukar yang tinggi.
• Bahan Bakar Permukaan
Semua bahan yang dapat terbakar di atau dekar permuaan tanah, meliputi daun-daun kering, rumput, batang, ranting belukar dan bahan organik yang terdapat di lantai hutan atau permukaan tanah.
• Bahan Bakar Bawah
Semua bahan yang dapat terbakar yang terdapat di bawah permukaan tanah, meliputi bonggol akar, batubara, akar-akar tanaman dan pembusukan bahan-bahan kayu lainnya (Dephut, 1992).

Sifat dan Penyebaran Bahan Bakar
Menurut sifat dan penyebarannya bahan bakar dapat dibedakan menjadi beberapa golongan sebagai berikut:
• Bahan Bakar Ringan
Bahan bakar ringan adalah bahan bakar yang mudah terbakar seperti rumput, daun atau serasah dan tanaman muda. Bahan bakar ringan biasanya akan mudah terbakar dan akan cepat padam.
• Bahan Bakar Berat
Bahan bakar berat adalah bahan bakar yang terdiri dari batang kayu yang rebah, tunggul, sisa-sisa tanaman yang akan sulit terbakar dan akan sulit dipadamkan bila telah terbakar.

• Bahan Bakar Merata
Mencakup bahan bakar yang terdistribusikan secara kontinyu pada suatu areal. Termasuk dalam katagori ini, adalah daerah-daerah yang memiliki suatu jaringan bahan bakar dan saling berhubungan satu sama lain sehingga terbuka jalan bagi penyeberangan api.
• Bahan Bakar Tidak Merata
Meliputi semua bahan bakar yang terdistribusikan secara tidak merata pada suatu areal. Hambatan atau rintangan tertentu yang ada, misalnya berupa gunung batu, Kolam atau danau, jalan, sungai atau tanaman yang sulit terbakar.
• Bahan Bakar Yang Sangat Rapat
Meliputi tanaman pada areal dimana tanaman yang ada penyebaranya sangat rapat serhingga dimungkinkan api dapat merambat ketas melalui dahan dan ranting yang saling berhubungan (Dephut, 1992).

Ukuran Bahan Bakar
Untuk menyatakan ikuran bahan bakar biasanya disertai dengan bentuknya. Terdapat lima kelas bentuk dan ukuran bahan bakar seperti pada tabel :

Tabel 1. Bentuk dan Ukuran Bahan Bakar
No Ukuran Bentuk
1 Rabuk/ Sangat halus Gambut, akar, humus
2 Halus Daun, rumput, alang-alang, serasah
3 Kecil Ranting berkayu, cabang < 0,63 cm
4 Medium Cabang, batang 0,63 cm- 2,54 cm
5 Kasar Tonggak, tiang 2,54 cm-7,62 cm
6 Besar Batang > 7,62 cm

Ukuran bahan bakar ada kaitannya dengan kelakuan sifat kebakaran yang terjadi. Bahan bakar yang halus yaitu bentuk daun, rumput dan serasah akan mudah dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya, mudah mongering, namun mudah pula menyerap air. Karena cepat kering apabila terbakar cepat meluas, namun cepat pula padam. Api akan semakin cepat menjalar bila luas permukaan bahan bakar semakin besar. Bahan bakar kasar, kadar air yang terkandung lebih stabil, tidak cepat mongering, sehingga sulit terbakar. Namun, apabila terbakar akan memberikan penyalaan api lebih lama (Purbowaseso, 2004).
Susunan Bahan Bakar
Susunan bahan bakar dibedakan atas susunan secara vertical dan horizontal. Bahan bakar dengan susunan vertical atau kearah atas tajuk memungkinkan api mencapai tajuk dalam waktu yang singkat. Sedangkan susunan bahan bakar secara horizontal menyebabkan bahan bakar dapat menyebar, sehingga api juga dapat menyebar berkisenambungan secara mendatar. Apabila bahan bakar tersusun longgar, maka api akan lebih cepat merambat dibangdingkan dengan bahan bakar yang tersusun lebih padat. Hal ini karena pada bahan bakar longgar panas ditransfer melalui proses konveksi dan radiasi, sedangkan pada bahan bakar yang tersusun padat prosesnya adalah konduksi yang dapat dikatakan kurang efisien.
Adapun susunan bahan bakar secara vertikal dapat dilihat pada tabel

Tabel 2. Materi Penyusun Bahan Bakar Pada Posisi Vertikal
No Posisi Vertikal Materi Penyusun
1 Permukaan Serasah, sampah bekas tebangan
2 Rendah Kurang dari 2 m, dan homogen
3 Subkanopi Vegetasi setinggi 2-6 m
4 Tajuk Lebih besar dari 6 m, berisi tajuk vegetasi tertinggi
5 Bertangga Bersambung keatas antar strata

Sedangkan bahan bakar yang tersusun pada posisi horizontal secara rinci ditunjukkan pada tabel

Tabel 3. Materi Penyusun Bahan Bakar Pada Posisi Horizontal.
No Posisi Horizontal Materi Penysun
1 Seragam Lapisan bahan bakar sama pada seluruh kawasan
2 Campuran Berisi sampai 50% bahan bakar yang berbeda-beda, tersebar pada selang yang saling berdekatan
3 Terpecah 27-75% kawasan berupa sekat-sekat
4 Bersela Berisi satu atau lebih sekat-sekat yang cukup besar untuk membantu upaya pemadaman kebakaran

Susunan bahan bakar akan mempengaruhi sifat-sifat perilaku api. Susunan horizontal memberikan pengaruh apakah suatu kebakaran akan menyebar atau seberapa besar tingkat penyebaran api akan terjadi. Susunan bahan bakar vertical akan mempengaruhi ukuran dan kemampuan menyalanya api.
Volume Bahan Bakar
Volume bahan bakar dalam jumlah besar akan menyebabkan api lebih besar, temperatur sekitar lebih tinggi, sehingga terjadi kebakaran yang sulit dipadamkan. Sedangkan volume bahan bakar yang sedikit akan terjadi sebaliknya yaitu api yang terjadi kecil dan mudah dipadamkan. Hal ini didukung oleh hasil penelitian McArthur (1973) menyatakan bahwa kecepatan penjalaran api meningkat secara langsung dan proporsional dengan meningkatnya volume bahan bakar tersedia. Hal ini dengan asumsi bahwa faktor lainnya dianggap konstan.
Terkumpulnya bahan bakar dihutan dari saatu lokasi ke lokasi lainnya sangat bervariasi dan sangat tergantung dari struktur jenis dan komposisi bahan bakar yang ada. Disamping itu juga sangat dipengaruhi oleh sifat vegetasi yang bersangkutan, misalnya: sifat menggugurkan daun, mengadakan pemangkasan sendiri secara alami (pruning), besarnya tajuk, serta factor lainnya seperti aktivitas mikroorganisme tanah serta frekuensi terjadinya kebakarn hutan (Purbowaseso, 2004).

Jenis Bahan Bakar
Bahan bakar berasal dari berbagai macam komponen vegetasi baik yang masih hidup maupun yang sudah mati. Berbagai komponen tersebut akan menentukan kelompok bahan bakar, yang terbagi atas rumput, semak belukar, pohon-pohon atau tegakan, dan sisa-sisa yang tertinggal di hutan bekas tebangan, atau sisa limbah eksploitasi yang tertinggal di hutan bekas tebangan, atau sisa-sisa limbah kayu dari hasil land clearing dalam rangka penyiapan lahan.
Menurut sagala (1994) membedakan jenis bahan bakar lebih terperinci lagi yaitu:
1. Serasah lantai hutan
Serasah lantai hutan dapat berupa daun-daun pohon yang berjatuhan baik yang baru jatuh ataupun yang sudah mongering. Keberadaan daun-daun yang mongering tersebut dapat mempercepat penjalaran api. Contoh serasah yang cepat dalam penjalaran api dan yang mudah terbakar adalah serasah pinus Pinus merkusii.
2. Serasah tebangan
Serasah tebangan ini dapat berupa pohon yang telah di tebang, dapat pula berupa ranting-ranting pohon yang jatuh dan patah, serasah tebangan dapat melakukan penjalaran api yang cepat bila serasah tebangan kering dan dapat pula mejalar lambat bila serasah tebangannya basah dan lembab.
3. Tumbuhan bawah (epatorium, alang-alang dan resam)
Contoh dari tumbuhan bawah ini adalah alang-alang dan resam.Tumbuhan bawah merupakan media yang paling cepat dalam perambatan dan penjalaran terutama lagi jika alang-alang tadi kering
4. Kanopi
Kanopi yang rapat apalagi ditambah dengan kanopi yang lebat dapat mempercepat penjalaran api sehingga bisa membuat kebakaran meluas dengan cepat.
5. Tumbuhan bawah bertaut dengan kanopi
Tumbuhan bawah yang bertaut dengan kanopi disini contohnya pohon yang mempunyai simbiosis dengan pohon yang ditautnya, apabila tumbuhan yang bertaut banyak maka proses penjalaran api nya akan sangat cepat pula membakar hutan
6. Rumputan
Rumputan yang kering dapat mempercepat laju penjalaran api, rumputan merupakan bahan bakar yang mempunyai kerapatan yang rendah karena pada umumnya rumputan longgar dan tidak rapat, oleh karena itu rumputan merupakan bahan bakar yang baik dalam proses penjalaran api
7. Semak
Semak belukar merupakan bahan bakar yang cepat dalam proses kebakaran hutan, sama seperti rumputan yang juga cepat dalam proses pembakaran hutan.
8. Alang-alang
Sama halnya juga dengan rumputan dan semak alang-alang juga termasuk salah satu bahan bakar yang paling cepat dalam penjalaran api, dibandingkan dengan bahan bakar lainnya seperti pohon, kanopi dan lainnya.
9. Gelagah
10. Gambut
10. Batang melapuk tergeletak dan
Bahan bakar jenis ini merupakan bahan bakar yang tergantung kepada kering atau lembabnya batang tadi, apabila batang yang melapuk tadi kering maka merupakan bahan bakar yang dapat mempercepat laju penjalaran api, sebaliknya apabila batang yang melapuk tadi lembab maka proses penjalaran api juga akan lambat.
12. Batang melapuk berdiri
Jenis bahan bakar bias digunakan untuk memprediksi intensitas kebakaran yang akan terjadi. Tumbuh-tumbuhan berdaun jarum lebih mudah terjadi kebakaran besar dibandingkan dengan daun lebar yang relativ lebih sulit terbakar (Sagala, 1998).

Hubungan Bahan Bakar dan Penjalaran Api
Penjalaran api kebakaran hutan dan lahan dipengaruhi oleh kondisi bahan bakarnya. Kondisi bahan bakar bagaimana yang mempengaruhi kecepatan menjalarnya api yaitu kelembaban, ukuran dan kesinambungan bahan bakar. Beberapa factor tersebut diuraikan sebagai berikut :
a. Kelembaban bahan bakar
kemudahan bahan bakar untuk menyala tergantung pada kelembabannya. Semakin tinggi kelembaban berarti semakin kandungan air dalam bahan bakar, sehingga akan menyulitkan api untuk menyala dan menjalar. Demikian pula sebaliknya, apabila bahan bakar hanya sedikit mengandung kelembaban, maka ini akan mempermudah dan mempercepat api untuk menjalar. Bahan bakar yang kering akan mempermudah dan mempercepat api untuk menjalar. Bahan bakar yang memiliki kelembaban tinggi umumnya berasal dari pohon-pohon yang masih hidup, sedangkan bahan bakar yang memiliki kelembaban rendah berasal dari tumbuh-tumbuhan yang sudah mati, bisa berupa pohon mati, sisa-sisa pembalakan seperti tonggak, serpihan potongan ranting, dan sebagainya (Purbowaseso, 2004).
b. Ukuran bahan bakar
Kecepatan menjalarnya apai juga ditentukan oleh ukuran bahan bakarnya. Bahan bakar yang ringan akan lebih cepat menjalarnya dibandingkan dengan yang berat. Contoh bahan bakar ringan seperti daun-daunan, rerumputan, semak-semak ringan, sedangkan contoh bahan bakar berat, seperti tonggak bekas penebangan batang-batang pohon yang tertinggal dihutan, serta cabang-cabang pohon. Bahan bakar yang besar akan lebih lambat menjalarnya (Purbowaseso, 2004).
c. Kesinambungan bahan bakar
Bahan bakar yang berkesinambungan akan mempermudah api untuk menjalar. Hal ini disebabkan pemindahan panas dari bahan bakar satu kebahan bakar didekatnya akan berjalan dengan baik (Purbowaseso, 2004)
Kebakaran hutan seringkali terjadi, data menunjukkan bahwa luas kebakaran hutan di Indonesia 5 tahun terakhir terluas pada tahun 1998 sebesar 515.026 ha, sedangkan pada tahun 2002 sebesar 35.496 ha (Dephut, 2003). Karakteristik tanah terbakar di Sumatera ditinjau dari warna tanah masih dapat bertahan 12 minggu setelah hutan terbakar, nilai value dan chroma menurun dan hue menjadi lebih kuning. Kebakaran menyebabkan perubahan warna agregat luar memiliki hue dan chroma lebih rendah dan hue menjadi lebih merah dibandingkan warna dalam agregat (Sabiham, 2004).
Terkumpulnya bahan bakar di hutan dari satu lokasi kelokasi lain sangat bervariasi dan sangat tergantung dari struktur jenis dan komposisi bahan bakar yang ada. Disamping itu juga sangat dipengaruhi oleh sifat vegetasi yang bersangkutan, misalnya: sifat menggugurkan daun, mengadakan pemangkasan sendiri secara alami (pruning), besarnya tajuk, serta faktor lainnya seperti aktivitas mikroorganisme tanah serta frekuaensi terjadinya kebakaran (Purbowaseso, 2004)
Jenis vegetasi yang memilik sifat menggugurkan daun dan cepat mengalami pruning akan memberikan akulmulasi bahan bakar dilantai hutan dalam jumlah besar dibandingkan jenis yang tidak menggugurkan daun atau lambat mengadakan pruning. Demikian pula dengan pohon yang memiliki tajuk yang besar juga akan memberikan akulmulasi bahan bakar yang banyak bila dibandingkan dengan pohon yang memiliki tajuk yang kecil didalam hutan (Purbowaseso, 2004).

7 responses to “FAKTOR KETERSEDIAAN dan JENIS BAHAN BAKAR TERHADAP TERJADINYA KEBAKARAN HUTAN

  1. siang bang ..!!
    bang makasih yah
    jadi tahu kami apa penyebab kebakaran ..
    t”q

  2. SEHARUSNYA MEREKA TIDAK BOLEH MEMBAKAR HUTAN SEMBARANGAN MEREKA HARUS MENGGUNAKAN TEBANG PILIH

  3. saya sangat menyayangkan perubahan iklim kita ini apakah ini perubahan alam atau akibat ulah manusia yang selalu menebang hutan akibatnya alam kita menjadi gundul dan bencana akan datang melanda terus apa yang harus dilakukan saat ini

  4. hai saya nahdah namira saya sd kelas 6 di sd islam dwi matara oh iya bagus juga kok informasi yang bisa saya dapat karena ini juga penting untuk kliping saya kalau bisa saya komentar ,tolong sekalian ditambahkan informasi yang lebih penting lagi. terimakasah wassalam
    nahdah namira,sd kelas 6 di sd islam dwi matra mpr 3

  5. tinpus nya ada,,tp dapusnya ga ada,,

    T T butuh dapusnya jg

  6. saya gak ngerti sebenarnya apa yang ada didalam pemikiran kita saat ini. seharusnya kita saling mengigatkan sesama akan pentingnya hutan. demi anak cucu kita nantinya bukan untuk kesenangan yang cuma hanya sesaat aja.

  7. Makasiiiiii banget yaaa buat pelajaran tentang kebakaran hutan ini,,,,,
    banyak pengetahuan baru dan juga membantu saya dalam pembuatan laporan,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s